Cerita Desa
Sejarah Dusun
Sejarah Ledok Lempong tidak dapat dilepaskan dari perubahan tata pemerintahan desa di Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah terbit Maklumat No. 16 Tahun 1946 tentang Susunan Pamong Kalurahan, muncul penataan kalurahan dengan pertimbangan agar setiap kalurahan mampu berdiri secara mandiri, termasuk dalam memenuhi kebutuhan kehidupan masyarakatnya. Ketentuan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar bagi kebijakan penggabungan kalurahan yang ditegaskan melalui Maklumat No. 5 Tahun 1948. Dalam proses ini, Ledok Lempong merupakan salah satu kalurahan lama yang kemudian bergabung bersama Tunggularum, Dadapan, dan Garongan dalam pembentukan Kalurahan Wonokerto. Wilayah Ledok Lempong pada masa sebelumnya cukup luas, mencakup beberapa wilayah yang kini menjadi bagian dari Wonokerto. Dengan demikian, penggabungan tersebut mengubah kedudukan administratif Ledok Lempong, tetapi tidak menghilangkan keberadaannya sebagai sebuah wilayah permukiman dan identitas lokal masyarakat.
Perubahan penting berikutnya terjadi dalam kehidupan ekonomi masyarakat, terutama melalui perkembangan pertanian. Pada masa awal, masyarakat Ledok Lempong menggantungkan kehidupan pada pertanian. Sebelum salak menjadi komoditas utama, lahan dimanfaatkan untuk singkong, palawija, padi, serta tanaman seperti jambu dan nanas. Salak Jawa yang sebelumnya telah dikenal masyarakat secara bertahap berkembang menjadi komoditas yang lebih penting, hingga kemudian muncul dan meluas budidaya salak pondoh. Dalam prosesnya, tanaman salak lokal banyak direhabilitasi dan diganti dengan salak pondoh karena dinilai memiliki peluang ekonomi yang lebih baik. Perubahan ini menunjukkan bahwa perkembangan pertanian Ledok Lempong bukan sekadar pergantian jenis tanaman, tetapi juga perubahan cara masyarakat memanfaatkan lahan dan membangun sumber penghidupan.
Dalam perkembangannya, pernah muncul upaya untuk mengganti nama Ledok Lempong menjadi Sumberrejo atau Sumberjo. Nama tersebut sempat digunakan dalam kehidupan administratif masyarakat, bahkan pada suatu masa kedua nama masih dijumpai secara bersamaan. Namun, penggunaan Sumberrejo atau Sumberjo tidak berlangsung lama. Masyarakat kemudian kembali menggunakan nama Ledok Lempong sebagai nama dusun hingga sekarang. Dalam kehidupan masyarakat Ledok Lempong, kesenian juga menjadi bagian dari aktivitas warga. Beberapa kesenian yang pernah berkembang antara lain Wayang Wong dan Kethoprak, yang menurut penuturan warga sudah dikenal sejak masa mereka kecil. Kesenian tersebut kemudian tidak lagi berjalan karena para pelakunya meninggal dan tidak ada regenerasi. Setelah itu, Kubro Siswo berkembang dan menjadi salah satu kesenian yang cukup dikenal dari dusun ini. Kelompok Kubro Siswo bahkan pernah tampil di Cibubur dan Taman Mini Indonesia Indah. Jathilan juga sempat dicoba untuk dikembangkan, meskipun belum dapat berjalan secara berkelanjutan karena keterbatasan anggota dan kebutuhan dalam mengelola kelompok kesenian.